Ha.. iyakah bisakah ia melakukan…
Terasa batu itu ada dipelupuk mata..
Kuangkat dan kucuci mukaku masih melekat
Setebal itukah debu melekat di mataku dan menghalangi pandangan ku
Telah sebanyak itu air yang kubasuhkan dan mengumpal semakin tebal
Datanglah bantu aku
Aku perlu bantuanmu kawanku
Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan lagi
Begitu mudahkah aku selalu menyakitinya, katanya
Aku hanya tidak mengerti dan memahami bagaimana cara meraihnya
Aku memang berharap selalu dapat membuatnya bahagia
Tapi siapa yang membuat aku bahagia
Ia telah lupa kawan..
Kawanku yang baik
Aku pernah berbuat salah terhadapnya..
Dan aku juga pernah berbuat baik
Bukan pula aku merasa menang karena telah membuat tangisnya
Bukan itu maksudku..
Kawanku
Bagaimana membuat ia mengerti dan memahami aku yang tiada sempurna ini..
Janganlah ia membuat aku terluka, aku pun juga ingin dapat membantunya.
Dan meninggalkan masa laluku yang tiada aku pernah mau..
Kawan bagaimana memintanya agar Ia menghentikan langkahnya
Karena aku telah jauh dibelakangnya
Apakah seharusnya ia bersmaku, beriringan bergandengan
Kawanku..
Seandainya kau bisa mengatakan kepadanya
Bahwa aku sangat takut kehilangannya
Tetapi jika harus kehilangannya dan itu membuatnya tertawa
Karena itu yang ia katakan
Betapa mandirinya ia kini..
Betapa hebatnya ia kini, “tanpa mu aku tiada takut akan ombak” katanya
Dan bodohnya aku yang tiada mengerti dirinya.
Kawan datanglah..
Gandeng tanganku dan kuatkan aku..
Aku tiada sanggup berpijak di bumi ini
Aku tiada sanggup berjalan diatasnya
Terasa grativitas bumi melekat erat di kakiku
Kawan engkau dimana
Datanglah …
Aku sendiri dan masih merasa sendiri
Filed under: 1